SOROP Cerpen Misteri


387 shares

Desclaimer : cerita ini diambil dari pengalaman seorang perempuan bersama saudarinya, ia mengalami batas kengerian yg selama ini menjadi borok didalam keluarganya, mereka tidak mengetahui hal ini sampai akhirnya terbongkar semua bahwa ada sesuatu yg mendekam didalam rumah mereka.
Warning : bila saya luput dan toledor karena tidak sengaja menyebutkan clue tempat dan lain hal tolong disimpan untuk diri sendiri saja ya, thread ini sewaktu-waktu bisa saya hapus bila sudah dirasa tidak nyaman bagi saya sendiri, ini bagian janji saya karena cerita ini sensitif.
terakhir : kalian boleh membaca cerita ini dari awal lagi atau yg sebelumnya sudah pernah saya buat tapi tidak saya lanjutkan, bebas. tinggal pilih.

untuk pembuka cerita ini adalah narasi saya bersama kontributor saya sebelum mulai masuk ke inti cerita.

waktu itu, hari sudah mulai petang, orang menyebutnya waktu SOROP (SURUP) sendakala berputarnya waktu dari siang ke malam, dari terang ke gelap, dan pada jam-jam seperti itu sesuatu yg asing sedang merayap keluar, waktu yg tepat menyembunyikan anak-anak dari sosok tak kasat mata
“kulo niki asline soko keluarga sing gak neko, bapak, ibuk, pak de, bu lek, si mbah, kabeh wong apik, aku percoyo niku mas, tapi..” (saya ini sebenarnya berasal dari keluarga yg tidak macam-macam, ayah, ibu, paman, bibi, kakek semuanya orang baik mas, tapi..)
“ncen, tekan garis keturunan mbah nang niku pendatang sing kamudian rabi kale mbah dok, tiang jowo asli, usaha keluarga kulo niku berdagang..” (memang dari garis keturunan kakek, beliau adalah pendatang yg kemudian menikah dengan nenek, asli jawa, usaha keluara itu berdagang)
“gak onok sing aneh, gak onok, sampe pak de gowo mantok mbak niku, mbak sing bakal dadi bu de kulo engken” (gak ada yg aneh, gak ada, sampai pak de membawa perempuan itu, perempuan yg nanti jadi bu de saya)


saat itu Hanif masih duduk di bangku SMP kelas 7, setelah sholat bersama keluarga, mereka menuju ke pawon (dapur) di sana ada meja makan tempat anggota keluarga berkumpul, Hanif menjadi yg terakhir datang namun, saat dia akan duduk, bapak melihat kearahnya.
“nduk, pak de dereng mantok, tolong celuken budemu ning kamar, wes wayae mangan, yo” (nak, pak de’mu belum pulang, tolong panggilkan bu de’mu, sudah waktunya untuk makan, ya)

Hanif terdiam lama, ia seperti melamun namun kemudian gadis kecil ini mengangguk, berjalan, pergi,

kamar pak de berada disisi kanan bila berjalan dari arah dapur, langit sudah gelap terlihat dari celah-celah genting tua, gadis kecil ini lagi-lagi melamun, ada perasaan ragu, bagian yg paling tidak disukai dari rumah ini adalah kamar milik pak de, apalagi bila harus masuk
Hanif sudah berdiri di muka pintu kayu, ia terdiam di sana, memandang tuas pintu untuk beberapa saat, sebelum memberanikan diri mengetuk, “tok tok tok” tak ada jawaban, “bu de, niki hanif, wayahe dahar” (bu de, ini Hanif, sudah waktunya untuk makan)

masih tak ada jawaban,
mungkin bu de sedang tidur, pikir Hanif waktu itu namun dari dalam ia mendengar nafas mendengus, seperti mengeram, anehnya meski terdengar kasar namun sejatinya suara itu begitu halus, seperti masuk ke telinga dengan cara lembut, Hanif berhenti, ia lalu mendorong pintu perlahan
kamar bu de memang gelap, Hanif sudah hafal karena biasanya pak De yg menyalakan lampu, sudah lama ia ingin tahu kenapa Bu de suka sekali dengan keadaan kamar gelap gulita seperti ini, namun pertanyaan itu ia urungkan karena tak tahu harus bertanya kepada siapa,
di sana, meski dalam keadaan gelap, ada sedikit cahaya dari lampu di luar yg masuk lewat jendela, Hanif melihat bu De sedang tidur namun kondisi tubuhnya ganjil, ia meringkuk seperti orang kedinginan disudut kasur kapuk, Hanif hanya diam, suara mengeram itu berasal dari sana.

aroma lembab, dingin lantai tekel, bau apak dari debu, Hanif sangat membenci kamar ini, ia tak tahu alasan sebenarnya selain alasan-alasan tersebut, namun kondisi di dalam kamar ini begitu mencekam, siapapun pasti merinding apalagi bila orang tahu seperti apa bu de itu..
“bu De.. bu De..” panggil Hanif, kakinya berjalan sedikit demi sedikit mendekat, kasur kapuk disangga dengan ranjang besi berkarat namun masih terlihat kokoh, bu De masih meringkuk, mengeram persis seperti orang yg kedinginan, Hanif masih berusaha memanggil, pelan. pelan. pelan.
tangan Hanif yg pendek berusaha menjangkau dan menyentuh tubuh bu De yg ada disudut kasur, namun sayang sekali gadis itu tak bisa menjangkaunya kecuali ia ikut naik keatas kasur yg akan menimbulkan suara berkrieet yg cukup keras, ia tak mau menganggu bu De, namun, dilain hal,
ia harus mencari tahu apa yg terjadi dengan bibinya, apakah beliau sedang sakit, ataukah beliau sedang,

Hanif naik keatas kasur, suara krieeet panjang terdengar, namun bu De seperti tak perduli, ia masih mengeram sendirian disudut,

tangan kecil Hanif menyentuh punggung bu De,
ada yg aneh, saat Hanif menyentuh punggungnya, kulit yg terbungkus kain itu entah kenapa terasa begitu dingin, Hanif terdiam sejenak, sedangkan bu De, ia tiba-tiba tak lagi mengerang, tubuhnya diam tak bergerak, Hanif semakin merasa aneh,

“bu De.. bapak, ngengken kulo”
bu De masih diam, diam seperti patung. selang beberapa saat dia berniat membalik muka, tapi terdengar suara seperti orang sedang bergumam kesal, marah, Hanif tak bisa mendengar dengan jelas,

Hanif bergerak mundur, ia mulai merasa takut,
“Nduk, bu de isok jalok tolong” (nak bu de boleh minta tolong)

Hanif masih diam, suara bu de terdengar lain, samar-samar serak, Hanif tak menjawab,
“nduk, nyidek’o, gak usah wedi, mrene” (nak, mendekarlah, gak usah takut, kesini)

Hanif yg mematung di atas kasur lalu tergiur,
saat Hanif mulai merangkak di atas kasur mendekati bu De, tangan keriput yg sedaritadi hanya diam tiba-tiba mencengkram lengan Hanif, tapi sebelum melihat wajah bu De, telapak tangan seseorang tiba-tiba menutup mata Hanif, ia menarik Hanif sebelum menggendongnya, menjauh..
hal yg terjadi selanjutnya adalah Hanif melihat pak De menutup pintu kamar, ia bilang bu De sedang tidak enak badan jadi dia belum bisa bergabung dengan yg lain, pak De meminta Hanif agar kembali dengan yg lain sementara beliau sendiri kemudian masuk kedalam kamar,
sesaat sebelum pintu tertutup Hanif bisa melihat wajah bu De dengan raut wajah keriput serta rambut panjang acak-acakannya melihat Hanif melotot namun ia tersenyum menyeringai, persis seperti wajah nenek-nenek di film-film setan, tapi Hanif tak pernah menceritakan kejadian ini,
simpang siur tentang keanehan bu De sebenarnya tak hanya jadi perbincangan keluarga, tapi tetangga-tetangga desa, pernah ada dua orang warga yg saat itu sedang jaga malam, saat melewati di area kuburan, mereka mengaku melihat seorang wanita bergaun putih berjalan sendirian,
takut terjadi hal-hal yg tak diinginkan, mereka mengikuti, kebetulan hari itu ada warga sepuh yg baru saja meninggal entah bagaimana, di salah satu kuburan mereka menemukan wanita ini berjongkok, posenya terlihat seperti sdng berdoa, merasa ada yg janggal mereka berjalan mendekat
menghindari kesalahpahaman dua orang warga ini sepakat berjalan pelan, berusaha tak menimbulkan suara sambil memutar agar bisa melihat siapa dan apa yg sedang dilakukan oleh seorang wanita malam-malam seperti ini saat itulah mereka yakin bahwa wanita yg ada di kuburan adalah bude
bu-de sedang berjongkok sedangkan kedua tangannya menjumput tanah kuburan lalu memasukkannya kedalam mulut, melahapnya seolah-olah itu adalah nasi putih diatas sebuah piring..
sebenarnya semenjak cerita itu tersebar, banyak orang mengaku tidak percaya tapi sayang, lebih banyak orang yg percaya dengan cerita tersebut, Hanif dan keluarga sendiri tak tahu harus bereaksi seperti apa namun pak De mengatakan bahwa hal itu tidak benar,
tidak sampai perlahan-lahan semua mulai menyadari keanehannya,

Hanif, Isti, dan seluruh anggota keluarga sedang duduk diatas meja makan, lauk dan nasi tersaji di hadapan mereka namun hanya bu De seorang yg melihat kami semua makan dengan ekspresi wajah kosong,
nasi diatas piring tak disentuhnya sama sekali sampai menjadi dingin, meski begitu tak ada yg berani menegur bahkan pak de sendiri seolah-olah tak melihatnya, Hanif dan Isti beberapa kali mencuri-curi pandang, wajah wanita itu begitu kacau, ia, tersenyum berkali-kali sendirian,
di lain waktu, bu De sudah mulai mau melahap nasi meski caranya terlihat lebih aneh, ia mencengkram nasi putih melahapnya ke mulut bulat-bulat seperti orang yg sudah lama tak pernah makan tanpa menyentuh lauk sedikitpun,

malam itu, Hanif tahu, bapak dan ibuk sedang berbicara,
mereka duduk di ruang tengah bersama pak De, membicarakan tentang rumor-rumor miring, namun pak De bersihkeras bahwa isterinya hanya sedang sakit karena usaha pak De yg baru saja bangkrut ditambah ia juga baru saja kehilangan jabang bayi, ia meminta waktu setidaknya untuk sembuh,
namun puncak dari segala masalah ini adalah saat bapak dan ibuk menemukan bu De sedang merobek daging berwarna kemerahan dari perut seekor kucing malang di tengah-tengah lorong,

waktu itu bapak dan ibuk sudah tidak bisa menahan ini lagi, bu De dan pak De harus pergi,
namun siapa sangka keputusan ini justru menjadi titik awal cerita ini,

karena semenjak pengusiran itu, rentetan kejadian ganjil seperti tak pernah berhenti muncul di dalam rumah kami ini..

disinilah semua dimulai..
“nduk, kamu ndak pulang tah? ndak kangen sama bulek? kabeh dolor sepakat, rumah kui iku hak warismu, muleho yo nduk, ben omah iki gak kosong” (nak, kamu gak pulang? gak kangen sama bibi? semua saudara kita sepakat, rumah ini adalah hak kalian, pulang ya nak, biar rumah gk ksong)
“kosong yo nopo to bulek, pak de kale bu de kan ten mriku?” (kosong bagaimana sih bi, pak de dan bude bukannya tinggal disitu)

wanita diujung telepon berhenti sebentar, hening yg cukup lama sebelum ia berkata, “pak de baru saja gak ada”
“gak ada yo opo?” tanya Isti, disampingnya, duduk Hanif yg tak kalah terkejut mendengarnya,

“dowo ceritane, muleh dilek yo,”

Isti mematikan telephone, melihat kakaknya yg menunggu jawaban, “Pak de pejah, bulek kepingin kene mantok mbak”

Hanif terdiam sebentar,
“bu de minggat, jare onok masalah nang omah, pak De nyelok jeneng’e kene mbak sak durunge gak onok” (bu de pergi, katanya ada masalah di rumah, pak de terus memanggil-manggil nama kita sebelum dia gak ada)

“tenan tah?” (beneran tah?)

Isti mengangguk,
buta dengan apa yg sedang terjadi hari itu juga Hanif bersama adiknya Isti menuju ke stasiun, mereka harus pulang, namun tak menampik bahwa Hanif merasakan firasat yg buruk, ia tak bercerita kepada Isti bahwa semalam ia bermimpi, ia melihat Pak De melambai-lambaikan tangannya.
konon itu disebut dengan wangkrung, sebuah mimpi dimana kita dipertemukan oleh orang yg kita rindukan, konon bila kita datang ke tempat orang yg melambai-lambaikan tangan padahal dia sudah meninggal, kita juga akan mati di dalam tidur kita, orang jawa jaman dulu sering menemui-
hal seperti ini, masalahnya Hanif baru tahu bila Pak de kabarnya sudah meninggal,

meski dalam harapan Hanif, bu lek cuma berbohong agar mereka pulang bagaimanapun setelah apa yg terjadi Hanif masih merasa yakin bahwa Pak de orang yg baik,
ibu dulu sering bercerita sebelum beliau kehilangan isteri pertamanya ia adalah lelaki yg selalu membantu menggendong Hanif saat masih kecil di bawah pohon jambu tepat di depan rumah, namun Hanif juga tidak akan bisa lupa kejadian Sorop saat hal itu terjadi dan menimpa ibunya..
waktu itu sebelum maghrib ibuk ada di dapur, ia sedang menanak nasi di depan tungku saat seorang nenek tua melintas di belakangnya,

ibuk tak bisa melihatnya namun bisa merasakan kehadirannya,
sosoknya bersanggul dengan badan bungkuk, mengenakan jarik ia senang berada di sekitar dapur, ibu sudah terbiasa dengan kehadirannya namun sorop itu berbeda, ia merasa nenek tua itu memandanginya dari sudut dapur disamping tumpukan kayu bakar,

aneh, tak biasanya ia seperti itu,
tak hanya itu, nasi yg seharusnya sudah matang tak kunjung tanak sebaliknya nasi itu berbau bangkai, hal yg membuat ibu sontak muntah-muntah, sampai akhirnya ia tak sanggup menahan rasa sakit ketika dari dalam tenggorokannya keluar tanah hitam beraroma busuk,
setelah kejadian itu hal buruk seperti silih berganti datang masuk kedalam kediaman ini,

ibuk yg hanya bisa terbaring di atas kasur mulai merasa bahwa ada sesuatu yg begitu hitam tinggal di rumah ini, ia sekali lagi tak bisa melihatnya, tapi bisa merasakannya.
Hanif sedang tidur saat ia mencium aroma wangi, ia tak tahu darimana asalnya, namun ada belaian tangan dingin membelai-belai rambutnya, Isti tidur di sisi lain saat Hanif mulai sadar dan mencoba melihat siapa yg ada di sampingnya, ia tak menemukan siapapun,
disitulah lalu terdengar ibunya menjerit, membuat seisi rumah gaduh, Hanif turun bersama dengan adiknya melintas ke kamar orang tua tempat dimana bapak sedang duduk dan menahan kedua tangan ibuk, sedangkan di bawah kaki mereka terlihat-rambut menjuntai berjatuhan dengan darah
Hanif tak akan bisa melupakan wajah ibu yg melotot melihat bapak yg beristighfar sambil terus menahan kedua tangan, ibu mengeram, menjerit, lalu berkata, “IKI NGUNU GUK OMAHE KENE, MINGGAT KOEN!!” (RUMAH INI BUKAN MILIK KITA, PERGI SANA!!)

tak lama ia menggigit leher bapak,
merobek daging di pundak membuat bapak menjerit dan melepaskan pegangannya, sementara sobekan daging yg tipis itu dikunyah bulat-bulat sebelum ibu menelannya dan lalu memuntahkannya,

malam itu ibu terlihat seperti orang sinting,
bapak akhirnya memanggil teman baiknya yg bisa melihat sesuatu yg tak bisa dilihat oleh sembarang orang, saat beliau masuk ke kamar ibu, lelaki paruh baya itu tak henti-henti menatap ke langit-langit sambil sesekali seperti membaca sesuatu namun yg paling membuat Hanif penasaran-
-adalah ketika ia berkata, “omah iki gak bener, pelan-pelan tambah akeh dayo’ne, onok sing tau poso Sorop ya nang kene?” (rumah ini tidak benar, perlahan-perlahan semakin banyak tamunya, ada yg pernah puasa Surup ya disini?)
Hanif yg meskipun masih kecil ia bisa menangkap raut wajah bapak yg berubah, sembari menyisir rambut ibu yg hanya bisa menangis ditemani oleh Isti, Bapak menarik lengan temannya, lalu mengajak dia bicara empat mata, bapak menyembunyikan sesuatu,
tak lama lelaki paruh baya itu menuju kamar Pak de, belum juga pintu itu terbuka si lelaki langsung menutup hidung, ia lalu masuk, dibantu oleh bapak mereka menjungkirbalikkan ranjang tempat pak de dan bu de dulu tidur, disana mereka mencungkil satu persatu keramik yg ada dibawah
mereka meletakkan sesuatu sebelum menguburnya lagi, si lelaki lalu mendekat ketempat ibu, ia hanya memberi doa setelah itu beliau pergi,

konon, Hanif mulai merasa ada yg aneh saat menjelang maghrib bapak akan masuk ke kamar pak De menguncinya, tak membiarkan siapapun masuk,
hal ini terus berlanjut selama berhari-hari, semakin lama kondisi ibuk semakin membaik, beliau mulai bisa berjalan meski tak bisa lama-lama, sebaliknya, kondisi bapak semakin kurus dengan mata yg terlihat lelah,

Hanif dan Isti yg penasaran berniat untuk melihat apa yg terjadi
dari lubang kunci, Hanif yg tahu bapak baru saja masuk ke kamar pak De lantas mulai mengintip, di-sana ia melihat bapak sedang berdiri membelakangi pintu, menatap kearah jendela yg juga trekunci dengan gorden berwana putih, tak tahu apa yg sedang dilakukan bapak,
kemudian bapak mulai menggoyangkan badan serta kedua kakinya seakan-akan sedang menimang bayi, Hanif tercekat tak mengerti sebelum Hanif sadar di-sekeliling bapak di penuhi oleh sosok tak di kenal, terutama sosok mata wanita tua yg kemudian memandang Hanif dari lubang kunci,
sejak saat itu, tak ada lagi hal yg menganggu ibu, namun ini hanya bertahan sementara, karena selang beberapa waktu kemudian Pak de datang lagi ke rumah ini bersama dengan isterinya,
saat itu, Hanif masih terlalu kecil untuk tahu urusan orang dewasa, bapak memerintahkan Hanif agar mengajak Isti masuk bersamanya, meski di dalam hati anak kecil itu rasa penasaran atas apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam rumah ini menyeruak naik.
namun Hanif tidak dapat melakukan apa-apa selain menurut kepada bapak, apalagi saat itu Hanif melihat kilatan mata bapak, ia seperti marah, rasanya bagi Hanif sendiri ini adalah kali pertama ia melihat bapak bersikap seperti itu, apalagi di depan saudara kandungnya sendiri.
namun bukan Hanif bila tidak bersikap sedikit nakal, dari balik sebuah tirai yg tidak jauh dari dari sudut kiri lorong, Hanif berusaha menguping, Isti, adiknya, mencoba mengingatkan bahwa apa yg mereka lakukan terlalu berbahaya, namun, Hanif, ia abai dengan peringatan adiknya.
berkali-kali Isti memperingatkan bahwa ia merasakan firasat tidak enak, Isti menarik-narik baju-kakaknya, sesekali ia kembali mencoba mengingatkan agar lebih baik mereka tidak ikut campur dengan semua ini. Namun, Hanif sudah dirundung rasa penasaran yang tak bisa dibendung lagi.
di titik terjauh dari posisi kedua orang tua yang sedang duduk membicarakan sesuatu, dua anak kecil ini berusaha mendengar apa yang sebenarnya sedang dibicarakan oleh bapak, ibuk, pak de dan bu de.

ada satu hal ganjil, dimana hari ini bu-de tak terlihat seperti biasanya.
bu-de yg dikenal oleh orang sebagai pribadi yg tertutup dan sangat penyendiri tampak berbeda, beberapa kali Hanif mendengar beliau berbicara, tampak normal, walau sebenarnya hal seperti ini justru membuat bu-de terlihat tidak normal.
apa yg sebenarnya terjadi dengan perempuan ini
Dari sudut tempat Hanif dan Isti berdiri, ia, bisa melihat wajah pak de yg menatap lurus, kemungkinan sedang melihat bapak yg ada didepannya, disamping kiri-nya bu de juga melakukan hal yang sama, wajah mereka terlihat serius bercakap-cakap, sayang, tidak ada yang bisa didengar.
posisi Hanif dan Isti tidak memungkinkan untuk bisa mendengar dengan jelas, kecuali, mereka mau melangkah sedikit lagi kedepan namun bila itu dilakukan, bapak pasti akan tahu, ia akan marah besar, terpaksa Hanif hanya bisa mengira apa yang sedang mereka bicarakan dari bhs bibir.
dan di-sinilah hal yang mengejutkan terjadi, sesaat entah bagaimana hal itu terjadi, di tengah-tengah keseriusan Hanif melihat bibir pak de tiba-tiba, kepala bu-de menoleh, bergerak pelan sebelum menatap Hanif dengan sorot mata melotot, ada senyuman aneh yang membuat gadis kecil-
ini merinding dibuatnya. bu de tersenyum, meski hanya sedikit sekali namun Hanif bisa merasa ketakutan, ketakutan yang tak bisa ditulis oleh kata-kata.

perempuan itu sungguh menakutkan.
lama setelah waktu bergulir, terdengar suara gebrakan di meja diikuti oleh suara bapak yang berteriak-teriak keras, Hanif dan Isti merasa kalut karena terkejut sementara di luar rumah mulai ramai tetangga berkumpul, mereka semua ingin tahu sembari mengamati situasi,
tak beberapa lama, pak de keluar dengan isterinya, mereka diusir dari dalam rumah oleh bapak, ibuk sampai menahan tubuh bapak agar tak terjadi kontak fisik, lagi-lagi tak pernah Hanif melihat bapak sampai sejauh ini.
Pak de-pergi bersama bu de, mereka meninggalkan tempat ini dengan sebuah mobil hitam mewah, mobil yang entah didapatkan dari mana.

Kepergian pak de dengan bu de benar-benar membuat Hanif merasa lemas, ia takut sesuatu terjadi. mata bu-de tak berhenti melotot pada bapak dan ibuk.
di luar Langit sudah mulai gelap, dari jauh-terdengar sayup-sayup suara adzhan maghrib berkumandang, Hanif menanggalkan pakaiannya, meletakannya di sebuah paku yg timbul di kamar mandi kayu, tangannya menyentuh dinginnya air di dalam bak batu-bata, ia meraih gayung sebelum mulai-
-membasuh perlahan tubuhnya dari ujung rambut sampai ke mata kaki. dingin. tiba-tiba sesaat gadis itu terlonjak karena merasakan sesuatu di belakangnya, sesuatu yg terasa seperti ada seseorang sedang bernafas.
Hembusannya begitu terasa sampai menyentuh kulit leher Hanif, dengan cepat gadis kecil itu langsung berbalik melihat ke sekeliling kamar mandi, namun dirinya tak menemukan siapapun kecuali dirinya seorang diri. tak mungkin ada orang lain. pikirnya saat itu.
Hanif kembali menggayung air membasuh tubuhnya lagi namun perasaan itu muncul lagi, semakin lama semakin kuat, perasaan tak nyaman seperti sedang diamati oleh seseorang, setiap guyuran air yg membasuh wajahnya, tiba-tiba tersirat sesaat di dalam isi kepalanya. bayangan wajah tua,
sosok wajah tua berambut keriting panjang, ia tersenyum lebih terlihat seperti menyeringai, bola matanya hitam, dengan kulit keriput ia berdiri tepat di belakang Hanif persis, seperti sedang membaui rambutnya

Hanif berhenti, ia ingin menoleh namun wajah itu menempel di kepalanya
Gadis itu seketika berniat pergi dari kamar mandi dengan perasaan ngeri saat ia membuka pintu tiba-tiba Hanif tercekat melihat Isti adiknya berdiri tepat di muka pintu, ia melihat Hanif lalu bertanya kenapa wajahnya terlihat pucat, Hanif menggeleng, ia tak mau menceritakan ini,
Isti kemudian melewati Hanif sebelum menutup pintu kamar mandi, jarak kamar mandi dengan rumah memang terpisah beberapa langkah, Hanif masuk kedalam rumah melalui pintu pawon (dapur) sebelum berjalan menuju kamarnya, tiba-tiba langkahnya terhenti saat melihat kamar ibuk..
di-sana, Hanif melihat ibuk sedang duduk bersimpuh dengan meja kayu kecil tepat disampingnya ada Isti sedang sibuk menulis, tak beberapa lama wajah ibuk menoleh melihat Hanif begitupula dengan Isti yg seperti penasaran kenapa kakaknya hanya berdiri dan menatap mereka seperti itu.
kata orang jangan pernah mandi di saat-saat menjelang maghrib konon hal itu adalah perbuatan pamali. Hanif tak berkata apa-apa lagi, ia pergi ke kamar mencoba melupakan apa yg baru saja terjadi, meski tak bisa diterima oleh akal ia yakin seribu yakin bahwa yg ia lihat tadi di –
-kamar mandi adalah adiknya Isti.
sebuah sepeda motor bebek baru saja tiba, seseorang lelaki yg tempo hari datang lagi ke rumah ini, ia membawa sesuatu seperti kain-yg menyerupai sajadah, entah apa itu sebenarnya ia memberikannya kepada bapak sambil berkata sesuatu seperti, “SOROP’ e kudu di resik’i”
dari kamar, diam-diam Hanif mengamati, lelaki itu masuk kembali ke bekas kamar pak de dulu, menutupnya seperti biasa, setiap Hanif melihat hal itu ibuk lalu mengingatkannya agar tidak ikut campur, Hanif mencoba mencaritahu dari ibuk namun sayang sekali nampaknya beliau tak mau,
setelah itu, bapak dan lelaki itu berbicara di ruang tengah, gumaman suara mereka terdengar, tampak begitu serius, kemudian bapak memanggil ibuk diikuti oleh Hanif dan Isti, di sana bapak kembali bertanya,

“gak popo tah kabeh eroh?” (apa gak papa kalau semua tahu?)
lelaki itu mengangguk. “luweh apik kabeh eroh, ben gak onok sing disembunyino maneh” (lebih baik memang kalau semua orang tahu, biar gak ada yg disembunyikan lagi)

bapak mengangguk, lalu menyuruh semua untuk duduk, disana-bapak lalu berkata, “omah kene di iseni ambek bu-de”
Hanif tentu saja tidak mengerti, ibuk berusaha membantu menjelaskan namun Hanif dan Isti masih tak mengerti saat itulah kain atau sajadah berwarna kemerahan itu akhirnya di buka oleh si lelaki, di dalamnya ada segumpal rambut yg begitu banyak, semua rambut itu milik bu-de.
“mene omah-e di resiki ambek mas iki, mbak ambek adik melu bapak yo nang omahe bu lek dilek, mek sedino tok” (besok rumah-nya kita di bersihi sama mas-nya ini, mbak sama adik nanti tinggal di rumah bu-lek dulu, hanya satu hari)

Hanif masih terlihat bingung, ibuk memeluk Hanif,
setelah dijelaskan berkali-kali Hanif baru mengerti meski ia masih belum paham tentang bu-de dan apa yg dia lakukan di rumah ini, ia hanya tahu, rumah ini sedang berada di dalam suasana yg tidak mengenakan dan orang ini akan membersihkannya.

lelaki itu berdiri, bersalaman,
ia berkata besok akan kembali ke tempat ini dengan teman-temannya, ia menitipkan kain-sajadah berisikan rambut itu kepada bapak, agar menyimpannya di kamar saja, jangan sampai hilang karena bagian itu adalah bagian terpenting untuk membersihkan, bapak mengangguk, lelaki itu pergi
ia mengenakan helm, lalu menyalakan motor dan perlahan cahaya lampu itu mulai hilang, bapak mengajak Hanif dan yg lain masuk kemudian mengunci pintu,

malam ini angin berhembus lebih dingin dari biasanya, entah kenapa Hanif merasa tak nyaman dengan suasana seperti ini..
“mbak ojok lali cendelone di kunci” (mbak jangan lupa jendelanya di kunci) kata Isti dari atas kasur kapuk, Hanif segera menutup jendela lalu berjalan menuju kasur kapuk yg sama, mereka berniat tidur namun baru saja Hanif memejamkan mata ia mendengar suara krieek, suara jendela
Hanif menoleh melihat daun jendela yg tadi yakin sudah ia kunci tampak terbuka dengan kelambu transparan melambai-lambai tertiup angin dari luar. Hanif berdiri, ia melihat adiknya Isti sepertinya sudah terlelap di dalam tidurnya.

mungkin kuncinya sudah aus, pikir Hanif saat itu.
Saat-saat Hanif berjalan di atas dinginnya ubin lagi-lagi terdengar suara berkrieet panjang, kali ini dari pintu almari, Hanif terdiam sesaat, matanya tertuju pada gelapnya isi dalam almari sebelum ia merasa bayangan hitam melintasi jendela, Hanif menoleh namun tak melihat apapun
Hanif buru-buru menarik daun jendela, mengunci angselnya dengan benar lalu bersiap kembali keatas kasur kapuk bersama dengan adiknya Isti namun tiba-tiba terdengar suara familiar yg ia yakin pernah dengar, seperti, “nak, tolooooong!! Nak tolong”
Hanif menoleh ke jendela,
di sana ada sepasang tangan menempel di kaca, Hanif yg sempat terdiam beberapa detik mencoba mengendalikan situasi, ia ingin lari namun tubuhnya membeku, gadis itu akhirnya hanya bisa terpaku memandang ke jendela sebelum wajah gelap itu menempel dan memohon dengan keras, “TOLONG”
siapa sangka, akibat sentakan yg mengejutkan seperti itu justru membuat Hanif sadar, ia akhirnya bisa berlari menjauh dari tempat itu lari tungang langang ke atas kasur kapuk sampai membuat adiknya Isti terbangun dan menyadari bahwa kakaknya gemetar dengan wajah ketakutan.
Isti bertanya apa yg sedang terjadi, Hanif masih terlihat shock sebelum Isti menyadari bahwa daun jendela belum di tutup sama sekali, gadis kecil itu lalu turun melangkah ke tempat itu sebelum menutup dan mengunci angselnya, tak ada apapun, tak ada siapapun, namun,-
Hanif merasa bahwa ia mengenali suara itu namun anehnya ia tak tahu siapa pemilik suara itu. aneh.

Isti yg tidak mendapat jawaban dari Hanif tentang apa yg membuat kakaknya seperti ini memilih kembali untuk tidur, sebelum terdengar suara ketukan di pintu yg sangat keras.
Tak hanya Hanif dan Isti yg saling menatap satu sama lain namun terdengar langkah kaki cepat, bayangan bapak dan ibuk melintas di bawah pintu, membuat dua adik kakak itu ikut keluar, siapa tamu yg datang di malam-malam buta seperti ini.
di-sana, berdiri lelaki teman bapak, ia berdiri di muka pintu masih mengenakan helm, terjadi percakapan diantara mereka, “iyo mas, kudu tak gowo sak iki” (iya mas harus kubawa sekarang)

“iyo-iyo sek” (iya-iya sebentar) kata bapak sembari melangkah masuk kedalam rumah.
“monggo pinarak” (mari masuk dulu) kata ibuk, namun lelaki itu hanya mengangguk sambil tersenyum tipis, wajahnya datar saja setelah itu, ia memilih berdiri di depan pintu, Hanif tertuju melihatnya, entah kenapa ia melihat wajah lelaki itu sedikit pucat,
Hanif terus melihat lelaki itu sampai akhirnya ia sadar ada gadis kecil sedang memandanginya, ia menoleh terseyum kepada Hanif, tak lama, bapak keluar dengan membawa kain-sajadah yg sudah dilipat tempat menyimpan gumpalan rambut tersebut, ia menyerahkan benda itu kepada si lelaki
“yo wes aku pamit, mengko mene aku balik” (yasudah aku pergi dulu, besok aku kembali) kata si lelaki menuju motornya, bapak mengangguk, tak lama lelaki itu sudah pergi meninggalkan rumah, bapak lalu menutup pintu-mengajak yg lain masuk, namun, Hanif masih merasa janggal.
Keesokan paginya, bapak sedang duduk di kursi kayu teras, tiba-tiba seseorang datang dengan motor, salah satu teman pabrik bapak yg lain, ia berhenti di depan rumah, lalu buru-buru menemui bapak, dengan suara tinggi ia mengabarkan, “Edi mas, Edi, mati dilindes Truk mambengi”
Saat itu Hanif yg mendengarnya lantas tiba-tiba menjadi ingat, suara tolong yg ia dengar semalam rupanya sama persis seperti suara temen bapak, mas Edi, jadi yg di jendela dan datang ke rumahnya apa itu benar-benar mas Edi? Apakah itu sebelum beliau kecelakaan?
Bapak langsung memberondong pertanyaan kapan itu terjadi,
“jam 8 malam mas, di samping rumah sakit KI, nyawanya gak ketolong, kepalanya pecah, sampai otaknya tercecer”
Hanif masih mencuri dengar, namun, bapak mendelik seperti menolak semua ini, “tapi membengi areke mrene”
(semalam orangnya kesini)

mendengar kalimat itu, si lelaki melihat bapak dengan ekspresi wajah tak yakin, seakan apa yg baru saja bapak katakan adalah hal yg mustahil, ini juga yg dirasakan oleh semua orang yg ada disini, mereka saksi bahwa Edi sempat kembali ke rumah ini.
Siang itu juga, seluruh keluarga Hanif pergi melayat ke tempat mas Edi, di dalam hati setiap orang pasti masih bertanya-tanya, bila memang mas Edi meninggal dengan cara tragis seperti itu, lalu siapa yg datang, untuk apa ia meminta kain berisikan rambut milik bu De.
Menempuh jarak yg cukup jauh dari rumah, sampailah Hanif sekeluarga di sebuah rumah tua, tak lebih besar dari rumah miliknya, rumah milik mas Edi. di-sana, Hanif melihat kerumunan bapak-bapak sedang berkumpul mempersiapkan pemakaman, terdengar riuk peluk batang bambu dipukul.
Entah hanya perasaan Hanif kecil saja atau memang semua orang disini sedang memandang mereka dengan sorot mata sinis, bapak berjalan di depan, ia menuju ke pintu rumah dimana di teras terlihat tengah berkumpul perempuan. mereka sedang duduk di teras dengan suara isak tangis kecil
Seorang perempuan muda menangis dan menarik perhatian Hanif sekeluarga, usianya berkisar dua puluhan, masih sepantaran dengan mas Edi, begitu ia sadar dan melihat kedatangan Hanif sekeluarga, sorot matanya berubah, ada kemarahan, kebencian yg semuanya campur aduk.
Ia berdiri sebelum berlari seakan mau menerjang tubuh bapak bila saja tidak direngkuh oleh tangan kurus seorang wanita tua berambut panjang, wanita tua itu memekik meminta perempuan itu berhenti, suaranya berat dengan wajah keriput serta rambut putih beruban ia memandang Bapak.
Wanita tua itu adalah ibunda dari mas Edi, sedangkan perempuan muda itu adalah calon isteri mas Edi bila saja anak itu tak menemui ajalnya lebih dulu, ibu mas Edi mengajak Hanif sekeluarga untuk bicara di dapur, katanya ada yg mau dibicarakan, wajahnya terlihat serius.
Hanif dan Isti duduk dipangkuan ibu, tak jauh dari tempatnya bapak duduk sedang menatap ibunda mas Edi yg seperti sedang melamun, menerawang jauh, lama mereka hanya saling diam tiba-tiba ibunda dari mas Edi mentakannya. “wes suwe ra onok uwong sing sanggup poso Sorop”
(sudah lama tidak ada manusia yg sanggup puasa Sorop)

Ibunda mas Edi lalu bertanya, suaranya terdengar putus asa, “sak iki ceritakno opo onok sing gurung tak erohi soale Edi iku amanah” (sekarang ceritakan apa ada yg belum ku ketahui karena Edi itu bisa menjaga amanah)
Hanif bisa melihat perubahan di wajah bapak, ia melihat kearah ibuk yg mungkin sebenarnya melihat kearah Hanif dan Isti, lalu setelah mengangguk sendiri, bapak membisikkan sesuatu kepada ibunda mas Edi, persis seperti apa yg bapak lakukan kepada mas Edi.
apa yg sebenarnya disembunyikan oleh bapak. Hanif tak pernah tahu, seakan-akan hal ini tak boleh diketahui oleh sembarang orang, lantas apakah anaknya sendiri belum cukup pantas untuk tahu. entahlah. waktu itu, bapak pasti punya alasan sendiri kenapa ia memilih menyembunyikan.
Setelah berbicara satu sama lain, kali ini, suara ibunda mas Edi terdengar lebih pelan, beliau lalu mengajak bapak masuk ke rumah, ibu memegang tangan Hanif dan Isti kuat-kuat terutama ketika di ruang tengah yg tak terlalu besar itu, terbujur seseorang yg di tutup oleh kain jarik
Hanya bapak yg ada di ruang tengah bersama dengan ibunda mas Hanif, dari pintu dapur itu, Hanif, memandang saat kain jarik itu di buka oleh bapak, wajahnya seketika pucat dan beberapa kali ia membuang muka, sepertinya wajah mas Edi tak bisa dijelaskan lagi dengan kata-kata.
Matahari sudah lewat diambang batas tengah, rombongan yg mengantarkan mas Edi ke tempat peristirahatan terakhirnya baru saja selesai menunaikan tugasnya, sebelum bapak pergi pamit, ibunda mas Edi mengatakannya, “tak warahno sek, Edi pasti nduwe alasan nolong kowe”
(biar kuberitahu dulu mereka, Edi pasti punya alasan mau menolong)

“engkok tak kabari yo” (nanti ku beri kabar ya)

bapak beserta sekeluarga lalu pergi, ada getir yg harus mereka bawa terutama saat melihat pintu rumah tempat mas Edi menggedor-gedor di malam itu.
Adzhan maghrib terdengar berkumandang saat bapak mengunci pintu kamar pak De dengan gembok berukuran kepalan tangan beserta rantai usang berkarat, aneh. Pikir Hanif saat melihatnya, apa yg sebenarnya bapak sedang lakukan dengan kamar itu.
Tak lama bapak pergi berpamitan kepada ibu, ia akan menghadiri tujuh hari kematian mas Edi ini yg dimulai malam ini selepas maghrib, ibuk mengangguk, suara motor bapak terlihat menyusuri jalan setapak setelah keluar dari pagar, sebelum menghilang dari pemandangan.
Disaat ibuk sedang duduk dan melihat Hanif serta Isti mulai menata rapi buku-buku sekolahnya di meja kecil kamar, tiba-tiba ibu teringat bahwa malam ini ia harus menghadiri rumah bu Minah tetangganya, ia menatap Hanif lalu memintanya untuk menjaga rumah sebentar sementara ibu-
-pergi bersama dengan Isti.

Hanif mengangguk, lalu melihat ibuk berjalan keluar kamar sebelum menutup pintu, suara langkahnya terdengar mengambang sebelum perlahan mulai lenyap, Hanif kembali menatap buku di hadapannya, seorang diri.
Di dalam kamar ibuk, tak terdengar suara apapun kecuali goresan pensil diatas kertas, sampai.. suara kecepak saat seeorang melangkah di atas lantai ubin mulai terdengar, caranya berjalan persis seperti saat ibuk berjalan..

semakin lama, semakin terdengar jelas..
Hanif berhenti sebentar, matanya menatap kearah pintu kamar yg tertutup, menunggu langkah kaki itu yg mungkin sebentar lagi tiba di depan pintu, ibuk pasti sudah kembali.

namun, anehnya, saat langkah kaki itu seharusnya sudah tiba di-sana, namun tak ada seorangpun yg membukanya.
Di dalam adat jawa ada sebuah larangan mendasar kenapa rumah tak boleh memiliki lorong lurus dari arah ruang tengah kearah dapur karena tidak ada yg tahu apa saja yg bisa serta merta melewatinya, Hanif, merasa, siapapun yg baru saja terdengar berjalan di lorong rumah ini,-
-saat ini, sedang berhenti tepat di depan pintu.
Hening. Hanif merasa kamar ini terasa begitu hening, seperti ada sesuatu yg membuatnya tidak nyaman, sendiri, tapi Hanif merasa ada banyak sekali sesuatu sedang mengerubungi dirinya, hanya saja gadis kecil itu tidak tahu apa-apa, karena ia hanya terpaku pada satu pintu.
Pelan-pelan gadis kecil ini mulai berjalan mendekatinya. Langkah kakinya ragu-ragu, namun tertutupi oleh rasa penasaran bahwa apa yg baru saja ia dengar adalah suara langkah kaki milik ibunya, sesaat, ia bisa merasakan bagian di tengkuknya meremang. telapak tangan terasa dingin.
Tangannya terulur menyentuh handle pintu, lalu menariknya perlahan-lahan, tapi, rupanya, tak ada seorangpun yg berdiri di-sana. Hanif berhenti sebentar, menunggu detak jantungnya yg berdebar kencang kembali normal, sebelum, “Prak” suara dari panci jatuh terdengar dari arah dapur.
Seketika Hanif langsung menoleh tepat ke-lorong arah dapur, sebelum Hanif tercekat karena tepat di depan wajanya, di samping sisi pintu yg tak bisa di-lihat, seorang nenek mengenakan kebaya dengan sewek, ia membungkuk atau lebih tepatnya memang bungkuk sedang melihat Hanif,.
beliau tersenyum, senyum yg sama seperti wanita tua kebanyakan tunjukan, dengan kulit keriput dan rambut panjang dibiarkan tergerai, hanya saja Hanif tak bisa merasakan tubuhnya sesaat ketika melihatnya, sebelum perlahan-lahan pandangan matanya lenyap.

ia hanya ingat, gigi-
-si nenek tua memiliki satu taring.
Bapak duduk disamping, sedangkan ibuk berdiri menggendong Isti, mereka semua sedang menatap dengan sorot wajah yg sama, khawatir, tak lama setelahnya bapak meraih segelas air dari meja meminumkannya pada Hanif yg baru saja sadar.
Belum juga bertanya, tiba-tiba ibuk berbicara. “nduk kowe lapo turu nang pawon ijen” (nak kamu ngapain tidur diatas tanah dapur sendirian)
Hanif tak menjawab, ia hanya terbayang-bayang wajah nenek tua itu, seperti ingin berbicara dengan dirinya namun Hanif tak tahu setelahnya.
Diberondong pertanyaan itu Hanif seperti tak bisa menjawab, bibirnya keluh entah karena apa, bapak akhirnya berkata biar Hanif istirahat saja dulu, lelaki itu menggendong Hanif ke kamarnya, setelah meletakkan tubuh gadis kecil itu di atas kasur, bapak dan ibuk pergi.
Tak lama Isti, adiknya, bergabung bersamanya, Hanif hanya diam melihat ke langit-rumah saat adiknya kemudian berkata, “mbak, maksude opo, kowe kok ngomong onok mas Edi-onok mas Edi”
Hanif yg mendengar itu lalu duduk melihat kearah adiknya. “mbak ngomong ngunu?” Isti mengangguk.
“gak mok iku, mbak yo ngomong jare onok bu-de melbu gendong anak’e, riwa-riwi nang ngarep kamar” (gak Cuma itu, mbak, juga ngomong katanya ada bu-De datang, gendong anaknya, hilir mudik di depan kamar)
“teros, bapak eroh?” (lalu, bapak tau?)
Isti yg menatap Hanif, menggeleng.

Source : https://threadreaderapp.com/thread/1303235600825290753.html

Like it? Share with your friends!

387 shares

What's Your Reaction?

Unuseful Unuseful
0
Unuseful
Useful Useful
0
Useful
hate hate
0
hate
confused confused
0
confused
fail fail
0
fail
fun fun
0
fun
geeky geeky
0
geeky
love love
0
love
lol lol
0
lol
omg omg
0
omg
win win
0
win

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format