PENYESALAN SUAMI KARENA POLIGAMI ISTRI WAJIB BACA


678 shares
Muslim man and woman praying in mosque

Kisah nyata yang mungkin bisa diambil ibrohnya terutama bagi kaum Adam yg ingin berpoligami.

Sayap – sayap patah

Kala jari jemariku menulis kalimat kalimat ini karena mataku yang tak sanggup lagi menampung perihnya airmata..

Kawan…
Semua yang disyariatkan Allah adalah benar yang harus kita lakukan..

Dan Syariat itu tidak pernah salah dan keliru yang menjadikannya hancur adalah pribadi manusia…..

Sebut saja namaku Abdullah. Aku diberi Allah pendamping yangg supel,
pintar, rajin dan sangat sholehah, sebut saja namanya Aisyah, hidupku sangat bahagia apalagi Aisyah telah memberiku dua orang putra dan satu orang putri..

Rumah tanggaku sangat bahagia.
Suatu hari hatiku di uji oleh Allah Aku jatuh cinta pada seseorang gadis yang sangat cantik dan lebih mudah, sebut saja namanya Fatimah yang lebih membuatku semakin kuat ingin menikah lagi dengan Fatimah karena ia sangat sholehah dan bersedia menjadi istri kedua ku.

Akhirnya aku putuskan untuk menikah dengan Fatimah, aku sudah memberi tahu istriku namun Aisyah tidak menjawab apa-apa.

Yang kulihat hanya airmata yang tiba-tiba jatuh saat ku sampaikan itu, aku tak peduli … toh nanti juga dia akan menerima.

Muslim man and woman praying in mosque.

Terjadilah pernikahan antara aku dan Fatimah. Awal awalnya memang agak susah tapi lama ke lamaan akhirnya baik-baik saja, hanya saja Aisyah sedikit lebih pendiam setelah aku menikah lagi.

Waktu terus bergulir tidak terasa aku sedang membinah rumah tangga dengan Fatimah sudah satu tahun dan dikaruniai seorang putri yang sekarang berusia enam bulan, semantara Aisyah tidak banyak yang berubah darinya.

Hari-hari terus bergulir dan aku mulai bosan dan jenuh, sehingga terjadilah badai dalam keluargaku. Aku ingin menceraikan salah satu istriku, akhirnya terjadi pertengkaran dalam keluargaku dan jatuhlah talak ku pada Aisyah, kulihat ada airmata di wajahnya namun dia terus diam dalam kebisuan air mata.

Ku biarkan Ghozy, Ghassan dan Balqis anak anak ku ikut dengan Aisyah karena aku tahu mereka pasti akan memilih ibunya.

Tahun berganti tahun..
Hidupku dengan Fatimah pun mulai goyang, sebenarnya aku sangat bahagia dengannya namun sifat manja dan tidak memahami perasaanku membuatku tdk nyaman, dan tak jarang rumah tangga kami mulai diterpa pertengkaran.

Suatu ketika kami pernah bertengkar hebat dan membuat aku enggan pulang ke rumah, akupun mampir disebuah mesjid, kularutkan diri dalam sholat.

Dalam mesjid itupun aku rindu dengan Aisyah dan anak-anak ku.. Tapi dimana mereka?
tujuh tahun yangg silam saat aku mentalak Aisyah, Ghozy putra pertamaku berusia lima tahun, dan Ghassan berusia empat tahun sementara Balqis berusia satu tahun.

Hingga kini aku tak pernah mananyakan kabar mereka apalagi mengirimkan mereka biaya hidup. Sungguh semakin membuatku menderita memikirkannya .

Saat itu hujan turun dengan lebatnya.

Aku pelan-pelan dan diam-diam mulai mencari Aisyah dan anak-anak ku, namun hasilnya tak berhasil. Aku mulai menanyakan kiri kanan pada keluarganya atau pada teman teman Aisyah tapi tetap nihil.

Mereka hilang bagai ditelan bumi.
Dimana mereka ya Allah… Doaku dalam hati. Aku semakin ketakutan manakala tak mendapat info apa apa tentang mereka. Pikiran ku semakin tak menentu. Di sisi lain Fatimah hidup denganku dengan sejuta tuntutan.

Hari-hari pun terus berlalu.
Bahkan hampir enam bulan aku mencari mereka. Hingga pada suatu hari sehabis mengikuti kajian.

Tiba-tiba seorang ustadz mendekatiku “Abdullah!! apakah kau sudah bertemu Aisyah dan anak-anak mu?”
ku geleng kan kepala dengann air mata kerinduan.

Ustadz itu berkata
“Insyaallah mereka baik-baik saja” perkataan sang ustadz membuatku menatap wajahnya lekat lekat.

Wajah sang ustadz seolah tersirat ia mengetahui keberadaan Aisyah dan anak-anak ku.Ternyata benarlah dugaan ku sang ustadz memberi tahu setelah ku desak dimana Aisyah dan anak-anak ku.

Aisyah menghilang dalam hidupku dan menetap di sebuah kota yang sangat jauh dari tempat yang pernah menjadi kota tempat kami saat membina rumah tangga. Jauh dan sangat jauh. Jarak tempuhnya empat hari perjalanan.
Di sebuah pondok pesantren dipelosok desa tepat dilereng gunung.

Saat itu aku berangkat bersama sang ustadz sebagai petunjuk dan mediator yang mempertemukan aku dengan Aisyah.

Perjalanan yang panjang membuat aku dan sang Ustadz ingin beristirahat sejenak. Mampirlah kami disalah satu mesjid di tempat itu. Dada ku bergemuruh, perasaanku tak menentu, aku jadi ketakutan manakala anak anak ku tidakk mau melihatku apalagi menerima ku, terus ku yakinkan hatiku.

Tiba-tiba lamunanku hilang oleh merdunya suara adzan, airmata ku menetes menghayati kalimat sang mu’adzin.

Saat itu waktu magrib, aku dan Ustad memutuskan bermalam dimesjid tersebut.

Allahu Akbar … suara imam menggema, aku tenggelam dalam sholat oleh tartil bacaan imam. Menunjukkan sangat fasih dalam melafalkan Al Quran. Setelah selesai sholat sang imam memberikan tausyiah singkat tentang “Hargailah orang yg selalu bersama Kita”. Lisan sang imam benar-benar mengiris hatiku.

Keesokan hari dikala subuh menjelang aku berdoa ya ALLAH pertemukan aku dengan Aisyah dan anak-anak ku. Adzan subuhpun berkumandang. Sebelum sholat sang ustadz berkata insyaallah pagi ini kau akan bertemu dengan putra pertamamu.

Semakin bergemuruh hatiku ditambah lagi suara sang imam membuat para jama’ah memecahkan tangisan. Sungguh desa dan tempat yang dipilih Aisyah benar-benar sangat damai dari kebisingan dunia.

Benar lah pagi itu aku bertemu dengan putra sulungku Ghozy yang tiada lain adalah imam yang dari tadi malam membuat jemaah menangis karena tartilnya membaca Quran.

Hatiku bergemuruh…

Dalam usia yang sangat mudah ia telah memiliki ilmu setara gurunya. Hatiku kembali bergemuruh mana kala melihat nya tumbuh menjadi penghafal Quran.

Menetes air mata ku kepeluk di erat sekali kutanyakan kabar ibu dan adik adik nya. Dgn gaya bahasa yang sangat sopan Ghozy menceritakan perjalanan ibunya menanggung ketiga anaknya tanpa ada sosok ayah.

Ghozy telah di dewasakan oleh ilmunya walau ia baru berumur empatbelas tahun.

Kisah perjalanan istrinya di dengar dengan airmata tak terbendung. Hati Abdullah semakin merinding kala Ghozy mengatakan bahwa adiknya Ghassan yang usia beda setahun dengan Ghozy telah berangkat ke madinah karena prestasinya.

Disisi lain Balqis yg berusia sembilan tahun telah selesai mengikuti program kelas tahfidz. Ghozy dengan tegas mengatakan kami semua bisa seperti yang abi dengar karena sosok ibu yang telah abi tinggalkan.

Umi membesarkan dan mendidik kami untuk lebih mencintai Allah. Umi memberi kami makan dari hasil kerjanya sebagai orang yang mencuci piring di dapur pondok ini.

“Abi … Umi tak pernah mengajari kami untuk membencimu. Tapi ketahuilah kau adalah ayah kami, namun kau tak layak menjadi suami dari ibuku.”

Kalimat itu terdengar bagai petir. Dunia terasa gelap. Wajah ku menunduk, aku tak tahu harus berbuat apa.

Untuk mu yang sedang membaca tulisan ku.. Jangan kau berbuat seperti ku.

Seseorang yang ada disamping mu sekarang adalah orang terbaik yg di pilih Allah untukmu maka jangan sia sia kan.

Aku tak bisa melanjutkan tulisanku ini karena airmata ku menghalangi pandangan ku.

Untukmu istri ku Aisyah..
Walau aku tak layak untukmu … kini kau bukti kan bahwa sikapmu adalah cerminan dari namamu.

Hal terindah dalam hidupku kau telah menjadikan anak anak ku sebagai jundi jundi sejati.

Untukmu istri ku Aisyah … Dikala Allah mempertanyakan diriku tentang anak anak ku. Apa yang menjadi hujjah ku…?

Untukmu istriku Aisyah … Aku telah membuang berlianku. Sungguh anak anak kita tumbuh menjadi anak anak mutthaqiin. Satu hal yang ku mohon pada Allah. Agar aku diberi kesempatan untuk berkumpul dan menembus dosa dan kesalahan dengan kalian.

IBROH YG BISA DIAMBIL DARI KISAH INI, BAHWA BERSYUKUR SELALU KEPADA ALLAH DENGAN ORANG-ORANG TERDEKAT SAAT INI,

LENGKAPI KEKURANGANNYA,
TUTUPI CACATNYA,
PUJILAH ALLAH SELALU ATAS KEBAIKANNYA

Poligami itu disyari’atkan tapi bukan untuk dipermainkan, maka berfikirlah sebelum menyesal kemudian….


Like it? Share with your friends!

678 shares

What's Your Reaction?

Unuseful Unuseful
0
Unuseful
Useful Useful
0
Useful
hate hate
0
hate
confused confused
0
confused
fail fail
0
fail
fun fun
0
fun
geeky geeky
0
geeky
love love
0
love
lol lol
0
lol
omg omg
0
omg
win win
0
win

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format